Cerita untuk anak 8+ tahun: Kakakku Tersayang

Tema: Mengampuni

Bacaan: Matius 18:21 – 19:1

Hari Minggu pagi itu merupakan hari yang sangat cerah. Matahari bersinar keemasan, langit berwarna biru sempurna dan burung-burung di udara bernyanyi merdu. Saatnya Sekolah Minggu!

Kebetulan hari ini merupakan hari ulang tahun gereja jadi seluruh kelas Sekolah Minggu, dari kelas TK sampai kelas Tanggung, mengadakan ibadah gabungan untuk merayakannya. Semua anak dari segala usia dengan gembira berjalan masuk ke dalam gedung gereja untuk mengikuti ibadah.

Namun ada seorang gadis mungil yang cantik jelita tidak memperlihatkan wajah gembira pagi itu. Dia masih saja kesal pada kakaknya yang bernama Doni. Nama gadis mungil itu Yuni. Dia duduk di bangku kelas 2 SD dan di Sekolah Minggu dia mengikuti kelas anak kecil. Sedangkan Doni kakaknya lebih tua 3 tahun darinya, duduk di kelas 5 SD dan ikut kelas anak tanggung. Dengan wajah cemberut, Yuni memandang kakaknya yang berjalan di depannya sambil tertawa bersama teman-temannya.

Pada malam sebelumnya, Doni tanpa sengaja menumpahkan susu coklatnya ke baju kesayangan Yuni. Kaget karena apa yang diperbuat Doni, Yuni tidak mampu berkata apa-apa. Dia marah, sedih, dan kesal pada Doni. Namun, belum sempat Doni meminta maaf pada adiknya, Yuni sudah berlari pergi ke kamar ibunya meninggalkan Doni sendirian dengan perasaan bersalah.

“Ibu, ibu, Doni jahat! Lihat apa yang dia perbuat!” seru Yuni sambil menangis tersedu-sedu. Dia menjulurkan baju kesayangannya kepada ibunya yang sedang membaca di atas tempat tidur. “Bu, ini kan baju kesayanganku! Gimana kalau nodanya gak bisa hilang? Padahal, aku ingin memakainya besok bu….”

Ibunya memeriksa baju itu kemudian memeluk Yuni dengan erat. “Yuni, kamu tidak usah sedih seperti itu. Tidak usah khawatir sayang, noda di baju ini bisa hilang kok. Tapi, kamu belum bisa memakainya besok ke Sekolah Minggu karena pasti bajunya belum kering. Jangan menangis ya sayang.”

Sesaat kemudian, Doni masuk ke kamar ibunya masih dengan gelas berisi sisa susu coklat di tangannya. Dia maju perlahan mendekati tempat tidur ibunya dan berkata pada adiknya, “Yuni, maaf ya. Doni tidak sengaja. Tadi, sewaktu Doni masuk ke kamar Yuni, Doni kesandung mainan di lantai kamar Yuni, lalu tumpah deh susunya”.

“Doni jahat! Doni sengaja kan!” teriak Yuni tanpa memandang Doni.

Mendengar hal itu, Doni menjadi sedih dan tidak tau lagi harus berkata apa. Dia menyesal dengan perbuatannya dan dia tidak ingin adiknya tambah sedih lagi karena perkataannya. Lalu dia berlari masuk ke kamarnya sendiri.

Melihat kekesalan Yuni yang makin menjadi-jadi, ibu menenangkan Yuni sambil membelai kepalanya, “Yuni, Doni kan sudah minta maaf. Dia tidak sengaja. Tuh lihat! Dia jadi sedih karena melihat Yuni menangis seperti ini. Yuni jangan marah lagi ya sama Doni.” Namun Yuni tidak mengacuhkan perkataan ibunya dan tetap saja menangis.

Tak lama kemudian Yuni kecapekan menangis dan ibunya mengantar dia kembali ke kamar tidurnya. Sebelum Yuni tertidur, ibunya menceritakan cerita tentang Tuhan Yesus yang mati disalibkan untuk menebus dosa manusia. Ibunya berkata, “Yuni pernah tidak, mendengar cerita tentang Tuhan Yesus yang mati disalibkan?”

Yuni berpikir sejenak dan berkata, “Iya bu, Yuni sering mendengarnya di sekolah minggu.”

Ibunya bertanya lagi, “Yuni tahu kenapa Tuhan Yesus mati disalibkan?”

Yuni menjawab, “Kata bu guru, Tuhan Yesus mati untuk menebus dosa manusia”.

Ibunya kemudian tersenyum dan berkata, “Benar sekali Yuni, Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Yuni tahu kan kalau Tuhan Yesus sebenarnya tidak berhak dihukum seperti itu. Karena apa? Karena Tuhan Yesus sama sekali tidak berdosa. Seharusnya manusialah yang menerima hukuman itu karena manusialah yang berdosa. Tapi lihat Yuni, Tuhan Yesus tetap mau mengorbankan diri-Nya bagi umat manusia. Dan terlebih dari itu, Dia mengampuni orang-orang yang telah menganiaya diri-Nya saat hendak disalibkan.”

Yuni kemudian bertanya pada ibunya, “Kenapa Tuhan Yesus mengampuni mereka? Mereka kan sudah jahat sama Tuhan Yesus. Yuni pernah menonton drama penyaliban Tuhan Yesus pada saat perayaan Paskah di gereja. Dan, orang-orang yang berperan menjadi prajurit yang menangkap Tuhan Yesus, mereka memukul dan mencambuk orang yang berperan menjadi Tuhan Yesus. Jahat sekali orang-orang itu.”

Ibunya berkata, “Nah Yuni, itulah Tuhan Yesus. Walaupun semua orang berbuat jahat pada diri-Nya, Tuhan Yesus tetap mau mengampuni mereka.”

Setelah ibunya selesai bercerita, Yuni kemudian berpikir tentang kakaknya Doni dan apa yang telah diperbuat kakaknya pada dirinya. Yuni merasa sedih dan kecewa. Dia masih belum mampu memaafkan Doni.

Keesokan harinya di Sekolah Minggu, Yuni yang biasa duduk bersama kakaknya, pada hari itu memilih duduk sendiri di bangku belakang. Dia masih kesal pada Doni karena perbuatannya semalam. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang sebaya dengan Doni duduk di samping Yuni. Dengan sengaja, anak itu menarik rambut panjang Yuni yang di kepang rapi oleh ibunya. Yuni tentu saja kaget dan melirik marah pada anak yang tertawa terbahak-bahak itu karena berhasil menarik perhatiannya. Namun, karena Yuni sedang sibuk dengan kekesalannya pada kakaknya, dia tidak mengacuhkan anak itu.

Melihat sikap Yuni yang tidak ambil pusing dengan aksi tarik rambut tersebut, anak itu untuk kedua kalinya menarik kembali rambut Yuni. Kali ini dia berhasil. Yuni yang sedang kesal pada kakaknya menjadi marah dan membalas perbuatan anak itu. Yuni menarik segumpal kecil rambut pendek di kepala anak itu dan anak itu balas menarik rambut Yuni yang panjang.

Lalu Doni melihat apa yang terjadi. Dia segera berlari ke arah Yuni dan menolong adiknya. Dengan tangkas Doni dapat memisahkan mereka berdua. Namun, anak laki-laki itu menjadi kesal karena melihat perbuatan Doni yang tiba-tiba muncul merusak kesenangannya. Tanpa disadari Doni, anak itu kemudian mendorong Doni dengan begitu keras sampai dia terjatuh. Kata anak itu, “Hei, anak aneh, kenapa sih kamu mencampuri urusanku?”

Doni berkata, “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa membiarkan kamu mengganggu adikku.”

Anak itu membalas, “Oh ya..? Apa kamu tidak kenal aku? Kamu tahu kalau aku tidak akan membiarkan kamu mengganggu kesenanganku.”

Doni berkata, “Aku kenal kamu kok. Kamu Andi kan? Kamu adalah teman kelasku di kelas anak tanggung. Kita sebenarnya dari dulu sudah berteman namun sepertinya kamu sudah melupakan aku.”

Anak itu kaget mendengar apa yang dikatakan Doni. Dia mencoba mencerna perkataan Doni dan mengingat kembali apa yang sudah dia lupakan selama ini. Dia kemudian dia ingat bahwa Doni ternyata adalah temannya yang pernah dipukulnya pada waktu masih berumur 7 tahun. Dia membuat Doni harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami pendarahan di kepala. Pada saat itu dia berjanji tidak akan mendekati Doni lagi karena dia takut akan melakukan kesalahan yang sama. Dan pada saat itu juga, dia kehilangan sahabatnya yang terbaik.

Anak yang bernama Andi itu berkata, “Apakah kamu Doni? Bukankah sejak kejadian itu kamu dan orangtuamu pindah rumah ke kota lain?”

Doni menjawab, “Ya, kami memang pindah rumah. Tapi kami tidak pindah untuk selamanya, hanya untuk sementara saja. Sekarang kami sudah setahun lebih di kota ini.”

Andi tidak percaya dengan perkataan Doni dan berkata “Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu? Bukankah katamu kita sekelas.”

Doni menjawab, “Ya, kita sekelas. Aku pernah menyapamu beberapa kali namun kamu sibuk dengan kerjaanmu menjahili teman-teman. Dan kamu mungkin tidak mengenalku karena aku sudah tidak menggunakan kacamataku lagi.”

“Oh iya, aku baru sadar. Kamu sudah tidak menggunakan kacamata bodohmu itu ya….Rupanya pukulanku itu bermanfaat juga, ha…ha…ha…ha… Doni, maafkan aku ya.”

“Untuk apa meminta maaf?”

“Begini…pada waktu itu, aku benar-benar marah kepadamu dan aku tidak sengaja memukul kepalamu. Beberapa hari kemudian, aku menyesal dan ingin meminta maaf kepadamu. Tapi sayang, aku terlambat. Aku tidak sempat meminta maaf karena kamu sudah pergi. Aku benar-benar menyesal dan merasa kehilangan kamu Don.”

Sambil menjabat tangan sahabatnya itu, Doni berkata, “Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu karena aku tidak berpamitan dulu sebelum pergi.”

“Ya sudah…kalau begitu, aku minta maaf karena telah menjahili adikmu. Aku tidak tahu juga kalau dia itu adikmu. Maaf ya Don!”

“Ya, kumaafin. Tapi seharusnya kamu meminta maaf pada Yuni.”

Andi kemudian melirik ke arah Yuni dan berkata, “Maaf ya. Tadi itu aku melihatmu cemberut sendirian jadinya aku ingin mengganggumu.”

Yuni yang terheran-heran mendengar percakapan kakaknya dengan sahabat lama kakaknya itu hanya mengangguk perlahan sambil berkata, “Iya.”

Kemudian Doni mengajak Yuni duduk di depan bersamanya.

Melihat sikap kakaknya itu, tergeraklah hati Yuni untuk memaafkan. Dia melihat Doni memaafkan sahabat lamanya yang pernah menyakitinya. Yuni menyadari bahwa ternyata, kakaknya itu sangat baik. Walaupun Yuni memilih untuk duduk berjauhan, Doni tetap memperhatikan dirinya. Dalam hati kecilnya dia berkata, “Oh, betapa egoisnya aku. Mengapa aku tidak mau memaafkan kakakku sendiri padahal dia begitu menyayangi aku?”

Yuni kemudian teringat akan cerita ibunya tentang Tuhan Yesus yang mati disalibkan. Dia ingat bahwa Tuhan Yesus saja mau mengampuni orang-orang yang menganiaya dan membenci diriNya, mengapa dia tidak bisa mengampuni kakaknya yang begitu baik dan sayang kepada dirinya? Dengan malu-malu Yuni berbisik pada Doni, “Kak, maafin aku ya… Aku sudah berbuat salah pada kakak.”

Doni kaget mendengar adiknya berkata seperti itu. “Loh Yun, harusnya kakak yang minta maaf karena sudah mengotori baju kesayangan-mu.”

“Tidak apa-apa kak. Jika dibandingkan dengan kelakuanku tadi, seharusnya aku yang minta maaf pada kakak karena tidak bisa memaafkan kakak. Aku pikir kakak tidak sayang sama aku”.

Doni kemudian menjawab, “Kakak sayang kok. Buktinya, susu yang kemarin tumpah dibajumu itu sebenarnya kakak buatkan untuk kamu. Yuni tau kan kakak gak suka coklat?”

Yuni kemudian teringat bahwa selama ini Doni tidak pernah menyukai susu coklat. Yuni benar-benar merasa bersalah karena tidak menyadari betapa Doni sangat menyayanginya.

About these ads

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.