Keterbatasan Bukan Alasan Untuk Tidak Melayani

Kisah seorang janda miskin

(Markus 12:41-44)

Perikop kita oleh LAI diberi judul “persembahan seorang janda miskin”. Meskipun kisah ini terjadi di waktu lain (ayat 41: pada suatu kali), agaknya perikop ini secara narasi masih ada hubungannya dengan perikop sebelumnya (Markus 12:38-40). Pada perikop tersebut dikatakan bahwa “hati-hati terhadap ahli taurat…. yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang”. Dengan demikian, penulis ingin menunjukkan dan membangun opini pembaca bahwa janda yang sedang memberi persembahan termasuk dalam korban ahli taurat.[1]

Kali ini, Yesus ingin mengajarkan sebuah teladan bagi para murid. Janda adalah teladan itu. Janda miskin (ch,ra ptwch.) yang memberi persembahan sangat sedikit. Ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Yang menarik adalah, cerita ini seolah-olah ingin memperlihatkan bahwa semua orang bisa memberi. Pada ayat  41 dikatakan bahwa “banyak orang kaya memberi jumlah yang besar”. Sedangkan janda miskin ini memberi dalam jumlah yang sedikit. Tetapi hal inilah yang menjadi inti dari pengajaran Yesus. Ia mengatakan kepada para muridNya bahwa justru janda miskin inilah yang memberi lebih banyak dan bukan orang kaya (ayat 43). Alasannya adalah orang kaya memberi dalam kelimpahannya sedangkan janda miskin ini memberi dari kekurangannya. Diterangkan lebih lanjut bahwa hal itu bertalian dengan semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya (ayat 44).

Pengajaran Yesus ini menarik untuk diperhatikan. Para janda sudah menjadi korban para ahli taurat tetapi janda miskin dalam kisah ini justru masih bisa memberi persembahan. Kalau kita masuk dalam sejarah, maka kita bisa melihat bahwa waktu itu, banyak orang Yahudi yang hidup di kelas bawah. Hal itu diperparah lagi dengan penjajahan Romawi dan yang lebih parah lagi adalah sikap agamawan yang melegitimasikan kekuasaannya dengan jalan menjadi orang bertopengkan doa dan pengajaran hukum taurat. Mereka, yang dikatakan sangat pintar akan hukum taurat karena mampu menafsirkannya dengan baik, justru pada kenyataannya menjadi salah satu kelompok yang menindas orang miskin, termasuk para janda. Setidaknya Markus 12:38-40 melaporkan hal itu.

Maka pengajaran Yesus mengenai janda miskin ini ingin menunjukkan kepada para murid bahwa kekurangan dan kemiskinan tidak membuat dia berhenti untuk mempersembahankan sesuatu kepada Tuhan. Ia sadar bahwa ia adalah seorang perempuan dan janda miskin yang mendapat perlakukan tidak baik dari masyarakat. Namun Yesus menunjukkan bahwa dia inilah yang justru jauh lebih radikal daripada yang lain. Ia rela kehilangan segalanya, ia rela untuk tidak makan demi kecintaannya kepada Allah.

Keterbatasan tidaklah menjadi alasan bagi kita untuk tidak mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan. Keinginan untuk selalu mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan adalah hal yang diinginkan Tuhan dari kita. Tentunya, Yesus bukan anti terhadap orang kaya. Namun motivasi janda miskin inilah yang ingin diperlihatkan Yesus. Mungkin jumlahnya sedikit, namun itu jauh lebih baik ketimbang kita mempersembahkannya tanpa keinginan untuk mencitai dan mengucap syukur kepada Tuhan.

Penerapan

Kemiskinan, keterbatasan materi dan perlakuan yang diskriminatif oleh para ahli taurat tidak membuat nyali si janda miskin kendor untuk mencintai Tuhan. Ia malah ingin menunjukkan bahwa kemiskinan materi yang ia hadapi tidaklah menjadi alasan bagi orang untuk bisa mencintai Tuhan.

Mungkin sekarang ini, kita juga memiliki keterbatasan. Mungkin tidak sama persis dengan apa yang dialami oleh janda miskin ini, yaitu miskin materi. Semisal, kita tidak lagi bisa aktif dalam pelayan secara full time. Mungkin kita sudah tidak bisa lagi ikut dalam kepanitiaan. Atau kita sudah tidak bisa lagi ikut dalam berbagai kegiatan sosial. Namun, lewat pengajaran Yesus kali ini, kita diajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan ketidak-mampuan kita mencintai Yesus. Anda misalnya hanya mampu duduk di kursi roda. Anda bisa berdoa bagi keluarga dan gereja anda dengan penuh kesungguhan. Mungkin orang tidak melihat apa yang anda lakukan, namun bagi Tuhan itu jauh lebih baik.

Yang diinginkan Yesus adalah kesungguhan untuk mencintaiNya. Janda miskin ini sungguh mencintai Yesus sehingga ia tidak peduli dengan kebutuhan materinya. Ia memberi dari kekuarangannya yang berarti memberi segala yang ia miliki. Ia percaya bahwa Tuhan yang ia sembah adalah Tuhan yang akan tetap memelihara hidupnya. Semangat dari janda miskin inilah yang seharusnya bisa mengikis ke’minder’an kita dari berbagai keterbatasan kita untuk berbuat yang terbaik kepada Tuhan. Sesuatu yang anda perbuat, meskipun sedikit namun dengan kesungguhan hati dan kecintaan total kepada Tuhan, di mataNya itu jauh lebih besar dari mereka yang mampu melakukan banyak hal namun memberi dan melakukannya tanpa kecintaan kepada Tuhan.


[1] Stefan Leks misalnya menggabungkan kedua perikop di atas. Menurut dia, kedua bagian tersebut dipadukan oleh Markus lewat kata “janda” (Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 394). Hal lain yang juga perlu diperhatikan bahwa dalam bahasa asli, kedua bagian tersebut memang ada kaitannya. Pemakaian kata kai (dan atau pada) menunjukkan kedua bagian tersebut ingin dipahami dalam satu konteks cerita.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s