Teologi Operatifku: “Teologi Telinga”

Fase I

Pengalaman pribadi yang dominan mempengaruhi kehidupan saya sampai saat ini adalah pengalaman saat saya dapat menjadi pendengar yang baik bagi keluarga dan sahabat saya. Hal ini saya ketahui melalui pengakuan mereka sendiri, yaitu karena mereka mengatakan selalu merasa senang dan tenang apabila saya mendengar keluh kesah mereka.

Pada waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingat dengan jelas saat-saat dimana saya memiliki begitu banyak teman dan tidak memiliki musuh sama sekali, kecuali adik saya sendiri. Saat itu, setiap kali ada masalah antara teman-teman di sekolah maupun di lingkungan rumah saya, mereka selalu mengadu kepada saya dan bercerita begitu banyak hal, mulai dari perasaan-perasaan marah dan benci sampai pada harapan-harapan mereka terhadap teman yang sementara mereka musuhi itu. Saya sendiri sampai saat ini masih belum mengerti kenapa mereka selalu mengeluarkan unek-unek mereka pada saya padahal, saya ingat waktu itu saya tidak pernah memberikan jalan keluar bagi mereka. Yang terjadi hanyalah saya mendengar saja dan meresponi melalui kata-kata yang sedikit menghibur mereka misalnya, “ya udah, sekarang kamu tenang dulu”, “jangan kuatir, pasti mereka akan sadar sendiri”. Selain itu yang saya tahu, saya selalu menjadi pihak yang netral, tidak berpihak pada teman yang satu atau lainnya. Dan setelah itu, dengan sendirinya keadaan membaik kembali.

Pengalaman lainnya juga yang masih berhubungan dengan menjadi pendengar yang baik adalah saat saya melihat orang tua saya bertengkar hebat dan saya menjadi sangat sedih karenanya. Saya kecewa melihat orang tua saya karena mereka adalah Majelis Jemaat yang terlibat dalam pelayanan di gereja  namun, saat berada di rumah, tidak ada damai di hati mereka masing-masing. Pada saat itu, saya yang masih rajin menonton program acara khotbah yang ditayangkan di televisi mendengar bahwa, apabila kita memiliki masalah, kita dapat mengirim surat ke mereka untuk didoakan. Lalu saya berniat untuk mengirim surat kepada mereka karena saya percaya apa yang dikatakan, dan saya ingin keluarga saya didoakan. Namun sebelum mengirim suratnya, saya berdoa pada Tuhan minta pertolongan-Nya karena saya masih ragu apakah saya harus mengirim surat itu atau tidak. Dalam doa itu juga, saya minta Tuhan untuk menjaga dan menyelesaikan masalah yang terjadi diantar kedua orang tua saya. Keesokan harinya, setelah saya pulang dari sekolah, saya melihat kedua orang tua saya sudah mulai rukun kembali. Saat saya hendak masuk ke kamar, mama saya mengajak saya untuk mengobrol. Saya terkejut saat melihat surat yang hendak saya kirimkan sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. Ternyata mama telah menemukan surat itu dan membacanya karena belum saya masukan ke dalam amplop. Pada saat itu, mama bercerita begitu banyak hal pada saya, mulai dari kenapa dia dan papa bertengkar, lalu perasaan-perasaannya saat membaca surat saya yang membuatnya terharu, dan sampai pada hal-hal yang tidak berhubungan dengan pertengkarannya dengan papa. Setelah obrolan yang cukup lama itu, saya melihat mama sudah seperti biasa lagi. Tidak ada wajah yang muram dan sedih terpancar dari wajah mama.

Kedua pengalaman di atas membentuk kepribadian saya sampai saat ini. Saya merasa bahwa menjadi pendengar yang baik pasti dapat berguna bagi orang lain saat mereka perlu untuk berbicara dan didengarkan. Ini terlepas dari apakah saya mengerti atau tidak apa yang dikatakan, yang terpenting adalah menjadi pendengar yang baik.

Fase II

Ada begitu banyak pengalaman mistis dan religius yang saya alami dari masa lampau hingga saya bersekolah di fakultas teologi. Beberapa yang saya anggap sangat mempengaruhi kehidupan saya:

–          Waktu saya masih duduk di kelas 2 SD, saya mengalami kecelakaan. Saat saya tidak sadarkan diri, saya bermimpi tentang surga. Di mimpi itu saya melihat ada tangga yang sangat tinggi dengan beribu-ribu anak tangga dan di ujung tangga itu, ada cahaya yang sangat terang sampai-sampai ada seseorang yang berdiri di depan cahaya itu tidak tampak wajahnya. Saya bertanya-tanya, “saya berada di mana?”, “apakah saya sudah mati?”, “ada apa di puncak tangga itu, apakah di ujung sana itu sorga?”, “siapa yang berdiri di sana, Tuhan ataukah malaikat?”. Saat saya hendak berlari menaikinya, kaki saya terasa sangat berat untuk melangkah dan pasti, akan sangat melelahkan jika harus menaiki anak tangga sebanyak itu. Saya juga mendengar suara-suara yang memanggil saya dari kejauhan dan juga suara dari seseorang yang berdiri di puncak tangga itu. Kalau tidak salah, orang yang berdiri di puncak tangga itu tidak mengizinkan saya untuk naik dan dia menyuruh saya untuk kembali karena belum tiba waktunya. Sempat saya memaksakan diri untuk naik, tapi perasaan untuk kembali lebih besar. Setelah saya sadar, saya sudah berada di RS. Saya melihat papa saya yang adalah seorang dokter sedang mengobati saya, dan ada begitu banyak orang lainnya yang tidak saya kenal. Setelah beberapa saat saya sadar, saya tertidur kembali. Pengalaman mistis ini saya ceritakan pada keluarga saya tapi mereka tidak mengambil pusing. Bahkan, adik dan kakak saya tidak percaya pada perkataan saya. Hanya oma saya yang percaya dan mendukung cerita saya itu. Dari situ saya yakin, tidak ada gunanya saya menceritakan pengalaman itu pada orang lain jika keluarga saya sendiri tidak dapat mempercayainya. Namun, sampai saat ini saya masih yakin, melalui pengalaman itu Tuhan mau berbicara pada saya bahwa Dia menginginkan sesuatu dari kehidupan saya. Dia masih ingin saya berada di dunia untuk menjalankan tugas-Nya.

–          Pengalaman selanjutnya adalah saat saya duduk di bangku SMP, saya merupakan murid yang aktif di pelayanan siswa. Pada pagi hari saya biasa bersaat teduh sebelum melakukan kegiatan sehari-hari. Pada suatu kali, seperti biasa saya membaca Alkitab dan sebelumnya saya berdoa pada Tuhan untuk memberikan penerangan agar saya dapat mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan saya. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba saya menemukan ayat yang berbicara tentang talenta dan ayat itu sepertinya benar-benar berbicara langsung pada saya. Saya meneliti ayat per ayat dan mendapati bahwa saya memiliki talenta untuk menasehati karena talenta-talenta yang lain kelihatannya tidak saya miliki. Dari pengalaman itulah saya mengubah cita-cita saya yang sebelumnya ingin menjadi dokter berubah keinginan untuk menjadi pendeta agar dapat menasehati orang lain melalui khotbah, perkunjungan di rumah-rumah ataupun melalui pelayanan lainnya. Beberapa hari setelah itu, saya memberitahukan cita-cita saya pada orang tua saya dan mereka terkejut dan terlihat sangat kaget. Saya berpikir, kekagetan mereka itu hanya kekagetan yang biasa saja. Ternyata yang membuat mereka kaget itu adalah karena harapan dan keinginan mereka terkabul. Dari saat mama melahirkan aku dan adikku (kembaranku), doa mama dan papa selalu berisi keinginan agar salah satu dari ke-3 anaknya memiliki cita-cita menjadi seorang pendeta. Ternyata pada saat itu Tuhan menjawab doa mereka (setelah kira-kira 13 tahun mereka berdoa untuk itu). Ini juga pengalaman mistis yang membuat saya sampai saat ini masih bertahan sekolah di teologi.

–          Ada juga pengalaman-pengalaman mistis lainnya yang mempengaruhi kehidupan saya saat ini. Pengalaman saat mengikuti KKR Gilbert Lumoindong (di Manado) yang lebih memantapkan keinginan saya untuk menjadi pendeta. Ini bukan karena orangnya tapi karena isi khotbahnya yang menyentuh hati saya, seperti suara Tuhan yang berbicara langsung pada saya. Saya sudah lupa isi khotbahnya tapi yang pasti, karena KKR itu saya menjadi sangat yakin dengan keinginan saya untuk menjadi seorang pendeta. Sampai-sampai, di KKR itu saya maju ke depan untuk didoakan agar mampu menjadi pelayan Tuhan yang baik dan seturut dengan kehendak-Nya.

Fase III

Tema-tema yang sering muncul dari hasil-hasil pekerjaan saya biasanya tema tentang kasih seperti misalnya, mengasihi orang lain. Tema ini muncul karena ayat dalam Alkitab yang paling saya hafal dan tidak akan mungkin saya lupakan adalah Yohanes 3:16, dimana ayat ini sangat menekankan kasih Allah yang sangat besar. Saya pernah beberapa kali membawakan renungan pada ibadah keluaraga. Dalam renungan-renungan itu, walaupun perikopnya berbeda, saya selalu menekankan pengorbanan Yesus di kayu salib yang merupakan wujud kasih-Nya terhadap umat manusia. Semuanya berhuhungan dengan kasih Allah.

Selain menekankan akan kasih Allah itu sendiri, saya juga sering berkata mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kehendak Allah. Seperti misalnya, menciptakan kedamaian, saling mendukung dalam susah maupun senang, dan saling mengasihi.

Semua tema yang muncul itu pasti tentang kasih. Tapi bentuk konkreat dari kasih itu sendiri bagi saya masih sangat abstrak. Saya membawakan renungan dengan bekal yang masih sangat minim sehingga sampai saat ini, saya masih merasa takut untuk melakukannya lagi karena merasa masih belum cukup untuk sampai pada tahap menasehati orang lain.

Jika saya harus membuat proyek dengan jangka waktu satu bulan saja, saya memilih untuk melakukan pelayanan pastoral bagi orang-orang lansia karena mereka adalah tipe orang yang patut mandapatkan perhatian. Pada usia lanjut biasanya mereka kesepian dan juga mereka makin suka untuk berbicara banyak jadi, saya memilih berada di antara mereka untuk mencurahkan semua perhatian saya dengan menemani mereka serta mendengarkan cerita-cerita mereka. Pasti akan sangat menyenangkan mendengarkan harapan-harapan mereka bagi anak dan cucu mereka.

Fase IV

Semua pengalaman yang saya tuliskan di atas kelihatnya memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Mulai dari pengalaman pribadi, saat menjadi pendengar yang baik sehingga semua teman dan keluarga selalu merasa tenang setelah berbicara dengan saya. Kemudian pengalaman-pengalaman mistis yang saya alami juga berhubungan dengan mendengar. Mulai dari mimpi tentang sorga dan mendengar suara misterius, mendapat jawaban dari doa yang sudah bertahun-tahun dipanjatkan melalui sebuah ayat dalam Alkitab, dan juga mendengar suara Tuhan melalui Gilbert Lumoindong. Lalu mengenai tema dominan yang muncul dalam hasil pekerjaan saya yaitu kasih, dimana saya mengkonkreatkan wujud kasih itu melalui pelayanan bagi lansia yang juga, masih berhubungan dengan menjadi pendengar yang baik.

Gambar yang saya gambarkan juga menyatakan seluruh pangalaman saya pada masa lalu. Matahari yang ditutupi oleh awan menymbolkan kesalehan saya yang masih belum sempurna dan oleh karena itu, cahayanya belum cukup untuk menjadi terang bagi orang lain. Saya tidak cukup hanya menjadi pendengar yang baik karena seharusnya dibarengi dengan menjadi penasehat yang baik juga. Selain itu, gambar matahari yang sebagian cahayanya tertutupi awan itu menyimbolkan pengetahuan saya akan Tuhan yang masih belum sempurna sehingga masih harus belajar lebih banyak lagi agar supaya, awan yang menutup cahaya matahari itu tersingkap. Namun saat sekolah di teologi, saya mulai menjauh dari kesalehan itu sehingga matahari itu tertutup dengan awan hitam yang membawa badai. Saya menjadi jarang membaca Alkitab, tidak peduli pada teman-teman saya yang dulu maupun yang sekarang, malas mendengar khotbah dan juga, selalu membawa bencana bagi teman dan pacar saya. Harapan saya di masa depan adalah menjadi pendengar dan penasehat yang dapat berguna bagi orang lain. Oleh karena itu saya menggambarkan matahari yang cerah, yang dapat memberikan cahayanya kepada semua orang tanpa terkecuali. Matahari yang cerah itu menyimbolkan kesempurnaan diri saya sebagai pelayan Tuhan yang saleh, yang sudah mengerti akan kehendak Tuhan dan dapat membawa damai sejahtera bagi orang lain melalui terangnya.

Dari semua pengalaman ini, saya ingin menamakan theologia saya dengan Teologi Telinga. Allah merupakan Allah yang memiliki telinga yang ajaib. Melalui telinga itu, Dia bisa mendengar semua keluh kesah, doa, pujian, dan harapan dari begitu banyak manusia di muka bumi ini. Tanpa telinga ajaib itu, Dia tidak mungkin menjawab semua doa yang dipanjatkan dan dia tidak mungkin dapat mengasihi kita serta peduli pada kita. Saat kita memanjatkan doa kita dan yakin doa itu didengar oleh Tuhan, pasti kita langsung merasa aman dan tenang. Allah kita memiliki telinga yang ajaib dan Dia tidak tuli.

Teologia operatif saya inilah yang membuat saya tidak pernah lupa untuk selalu mengucap syukur, memuji Tuhan, dan berdoa minta pengampunan dan pertolongan-Nya karena saya yakin, Tuhan pasti mendengar saya. Hal itu jugalah yang selalu menghibur saya saat berada dalam kesusuhan dan kesepian karena saya merasa cukup dengan itu semua, cukup dengan telinga Tuhan yang ajaib yang mampu mendamaikan dan menenangkan hati saya. Dia merupakan pendengar sekaligus penasehat yang ajaib.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s