Data-data Sejarah PAK di GMIM

1827 Kedatangan misionaris G.J.Helendoorn di Manado yang menjadi pionir misi di Minahasa bersamaan dengan usaha pendidikan.

1831 Kekristenan pertama diperkenalkan di tanah Minahasa oleh dua misionaris Jerman yang dididik di Belanda, yaitu Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz. Pada tanggal 12 Juni 1831 mereka tiba di daerah ini untuk memberitakan Injil. Tanggal ini diperingati oleh GMIM sebagai Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan kristen di Tanah Minahasa.

1851 Zending NZG mendirikan SPG (sekolah untuk guru) dengan utusan tenaga ahli dari Belanda yaitu N. Graafland.

1857 Pada tahun ini, sekolah zending telah memiliki 123 gedung sekolah dengan 6350 murid pria dan 3298 murid wanita. Tapi hasil pekerjaan memajukan masyarakat Minahasa yang umumnya dilakukan pendeta-pendeta asal Jerman, kurang disetujui oleh pihak pemerintah (guberemen) Hindia Belanda.

1867 STOVIL (School tot Opleiding van Inlandse Leeraaren) yaitu sekolah pendidikan untuk pendeta-pendeta pribumi didirikan pada tahun 1867 dan bertahan sampai tahun 1879 kemudian dibuka lagi pada tahun 1886.

1868 Pada tanggal 1 November, berdiri Sekolah Pembantu Penginjil yang merupakan cikal bakal berdirinya fakultas teologi di UKIT.

1868 Kebijaksanaan pemerintah (guberemen) Hindia Belanda tahun 1868: 62 sekolah “Zending” dijadikan sekolah Guberemer/negara dan program pendidikan tidak lagi ditentukan oleh “Zending” tapi oleh pemerintah Hindia Belanda.

1870 NZG menyerahkan jemaat-jemaat di Minahasa kepada GPI / Indische Kerk (Gereja kolonial Belanda).

1881 Berdirinya sekolah untuk perempuan di Tomohon (khususnya untuk anak-anak dari orang terkemuka di Minahasa).

1916 Pendeta pribumi diizinkan melayankan sakramen.

1924 Berdirinya sekolah untuk anak laki-laki.

1934 Penggabungan antara sekolah perempuan dan sekolah laki-laki menjadi HIS (Louwerierschool)

1934 GMIM berdiri setelah dipisahkan dari Gereja induknya, Indische Kerk (GPI). Pada tanggal 30 September 1943 GMIM dinyatakan sebagai Gereja mandiri. Tanggal ini diperingati sebagai hari jadi GMIM. Dr. E.A.A. De Vreede merupakan Ketua Sinode GMIM pertama (1934 – 1935).

1937 Serikat Kaum Ibu Masehi membentuk Perkim (Persatuan Kaum Ibu Masehi di Minahasa). Mereka menerbitkan majalah “Taman Ibu” diperuntukan bagi semua wanita/kaum ibu di Minahasa.

1938 Penyerahan sekolah-sekolah yang oleh NZG diserahkan pada Indische Kerk, kini menjadi milik GMIM.

1939 Pada tanggal 12 Desember 1939, Serikat Pemuda Masehi dipersatukan menjadi Persatuan Serikat Pemuda Masehi di Minahasa (PSPMM). Mereka juga menerbitkan majalah “Suluh Pemuda”.

1940 Pada masa pendudukan Jepang (Juli 1940), STOVIL ditutup tanpa alasan yang jelas, dan pada tanggal 1 Agustus 1940, kompleks STOVIL digunakan oleh sekolah guru jemaat. Sekolah-sekolah GMIM juga ditutup dan baru dibuka sesudah bulan Mei 1942. Hal ini disebabkan karena kecurigaan Jepang terhadap GMIM yang masih terikat dengan pemerintahan Belanda.

1944 Pada tanggal 17 Januari 1944, seorang pendeta Jepang yaitu Pdt. Hamazaki, mendirikan Menado Syuu Kirisutokyoo (MSKK) yaitu persatuan agama Kristen Selebes Utara, dengan kegiatannya antara lain mengusahakan agar kebaktian di GMIM dapat terus dilaksanakan. Namun ternyata pendirian MSKK ini mempunyai tujuan politis demi kejayaan pemerintahan militer Jepang di Minahasa. Hal ini dapat dilihat dari pelatihan-pelatihan yang ternyata isinya tidak lain merupakan indoktrinasi mengenai nasionalisme dan militerisme Jepang.

1946 Pendidikan formal teologi (setera dengan STOVIL) dapat terselenggara kembali lewat pendirian Sekolah Pendeta.

1951 Setelah kekalahan Jepang, GMIM mengadakan Sidang Sinode istimewa yang pesertanya tidak hanya berasal dari lingkungan GMIM saja tapi juga dari Dewan Gereja-gereja di Indonesia, termasuk gereja tetangga: GMIST dan GMIBM. Dalam sidang ini GMIM mengadakan perubahan Tata Gereja.

1952 Sekolah Pendeta yang didirikan pada tahun 1946 berubah menjadi sekolah Theologia.

1954 GMIM melakukan p.I keluar daerah yaitu di Gorontalo, Buol Toli-toli dan Donggala. Hasil p.I tersebut merupakan cikal bakal berdirinya GPIG, GPID, dan GPIBT.

1955 Sekolah Theologia diubah menjadi PGA (Pendidikan Guru Agama).

1961 PGA ditingkatkan menjadi Akademi Theologia.

1962 GMIM mengadakan perubahan Tata Gereja 1951 yang banyak menyangkut Pergerakan Pemuda, Kaum Ibu, Kaum Bapa, dan Anak-anak. Pada tahun ini juga, lahir Persatuan Kaum Bapa.

1962 Pada tanggal 7 oktober, kaum ibu GMIM mempelopori berdirinya Perguruan Tinggi Theologia (PTTh).

1965 Pada tanggal 20 Februari GMIM membuka Pendidikan Tinggi Universitas Kristen Tomohon. PTTh diintegrasikan ke dalam UKIT menjadi Fakultas Teologi. Sedangkan Akademi Theologia ditutup.

1988 GMIM menetapkan tahun 1988 sebagai pembudayaan Trilogi Pembangunan Jemaat. Trilogi Pembangunan Jemaat ini digunakan sebagai panduan pelayanan di tiap-tiap jemaat GMIM (sama seperti Sabda Bina Umat milik GPIB).

1991 Pada bulan September, fakultas Teologi secara resmi dimekarkan menjadi 2 fakultas yaitu Fakultas Teologi, dikhusus untuk para calon Pendeta, dan Fakultas Pendidikan Agama Kristen (PAK), dikhusus untuk calon guru Agama baik yang ada di jemaat maupun di sekolah-sekolah.

1995 Pada sekitar tahun 1995 GMIM, mengadakan pengembangan di bidang pelayanan Kategorial:

  • Melalui pelayanan Pria/Kaum Bapa, GMIM mengupayakan pembinaan jiwa wiraswasta dan penyluhan pertanian.

  • Sementara dari pelayanan Wanita/Kaum Ibu mengembangkan pelayanan dalam menunjang program terpadu seperti industri rumah tangga, proyek air bersih, latihan-latihan kerterampilan serta pembelian tanah untuk pusat latihan keterampilan wanita.
  • Dari pelayanan pemuda, diadakan pelatihan-pelatihan keterampilan (seperti membuat batako dan genteng) serta aktivitas pelestarian lingkungan.
  • Dari pelayanan remaja sayangnya masih meenghadapi banyak kendala karena kurangnya fasilitas, termasuk dana, sehingga kegiatan seperti perbengkelan dan sanggar keterampilan masih belum terealisasikan secara permanan.
  • Dari pelayanan Anak, tidak hanya dilayankan model pelayanan untuk anak tapi juga oleh anak sendiri. Hal ini terlihat dalam kegiatan kerja sama dengan anak-anak dari Gereja Injili Hesen Nassau (EKHN) Jerman yang telah menghasilkan pengadaan air bersih serta melibatkan anak secara aktif dalam kegiatan diakonia karitatif bagi panti asuhan dan SLB milik GMIM.

2005 Kini GMIM mempunyai sekitar 900 pendeta, 65% di antaranya adalah perempuan, yang melayani 818 gereja lokal, yang dibagi ke dalam 85 wilayah, dengan sekitar 700.000 anggota jemaat. GMIM mengelola banyak lembaga sosial seperti Taman Kanak-kanak (332), SD (364), SMP (64), SMA (20), sekolah kejuruan (6), sebuah universitas dengan sebuah fakultas teologi, sekolah untuk penyandang cacat (2), rumah yatim-piatu (2), pusat pelatihan (2), dan sebuah rumah sakit. Melalui YPPK?, GMIM mengusahakan adanya peningkatan status sekolah-sekolahnya(akreditasi)

Sumber:

Dr. Th. van den End dan Dr. J. Weitjens, SJ, Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an sampai sekarang, BPK Jakarta 2003, hlm. 90 dan 98.

Rudy N. Assa, Sejarah Ringkas GMIM 1934 – 2000, Christyoan Christian Publication Sulut 2003.

Internet: wikipedia.net, persetia.org, dan freewebs.com.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s