Iman dan Perasaan

Kehidupan spiritualitas dapat bertumbuh jika dijembatani dengan perasaan, tidak melulu pengetahuan iman belaka. Jika melihat pengalaman mistik religius, puncaknya justru terjadi dalam persatuan afektif dengan Tuhan, di mana seluruh perasaan kita diikut-sertakan. Oleh sebab itu perasaan perlu dihargai karena dengan perasaan, kita dapat menjalin hubungan dengan Tuhan dan juga hubungan dengan sesama.

Perasaan itu sendiri tidak cukup hanya dialami, tetapi juga perlu diungkapkan secara dewasa. Jika merasa sedih, kita bisa menangis untuk mengungkapkannya, namun bukan menangis secara berlebihan, melainkan menangis dengan penuh kesadaran dan kontrol diri. Jika marah, kita bisa mengungkapkannya dengan cara yang penuh pengendalian diri. Jadi perasaan yang kita alami harus diungkapkan secara bijaksana, tidak boleh ditekan namun juga tidak boleh diikuti begitu saja.

Perasaan cinta terhadap diri sendiri perlu dikembangkan dalam rangka pembinaan iman. Cinta diri disini tidak sama dengan egoisme. Cinta diri berarti menerima diri apa adanya, sedangkan egoisme berarti mementingkan diri sendiri termasuk juga merusak diri sendiri. Dengan mencintai diri kita karena merasa berharga dan bernilai di mata Tuhan, kita merasa pantas untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan.

Perasaan cinta diri pernah saya rasakan pada saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu saya menyadari bahwa saya harus mempersembahkan hidup saya yang sangat berharga ini pada Tuhan dengan bercita-cita menjadi pendeta. Kesadaran ini muncul karena perasaan sukacita yang saya rasakan setiap kali melakukan pelayanan. Namun setelah diterima dan belajar di fakultas teologi, perasaan ini kemudian saya pertanyakan. Setiap kali kuliah, ada saja hal baru yang saya pelajari yang kemudian membuat saya merasa hina dan tidak layak dihadapan Tuhan. Hal ini membuat saya menjauh dari Tuhan dan menjadi orang yang malas bersekutu dengan Tuhan. Saya menyadari bahwa ternyata saya hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang ‘sok’ suci dan munafik. Saya merasa panggilan yang dulunya saya banggakan ternyata hanya omong kosong belaka.

Kemudian selama kurang-lebih 3 tahun belajar di fakultas teologi, saya menghadapi banyak pergumulan. Saya pernah merasa tidak pantas untuk dihargai, merasa terasing dari keluarga dan teman, dan merasa tidak layak untuk berdoa mohon pertolongan dari Tuhan. Banyak sekali godaan yang datang dan saya sering kali jatuh kedalamnya. Namun dari godaan dan cobaan ini, saya yakin iman saya dapat bertumbuh dengan lebih kokoh. Saya mengibaratkan pertumbuhan iman saya seperti orang yang sedang mendaki gunung, kadang bisa terjatuh namun toh dia tetap terus bangkit lagi dan berusaha agar bisa sampai ke puncak, tidak hanya menetap pada ketinggian yang sama. Hal ini dapat terlihat dari pengalaman kehidupan iman saya.

Pernah pada saat saya stage(berpraktek di jemaat), saya merasakan kejenuhan yang luar-biasa dasyat. Setiap hari saya harus membuat renungan harian untuk dibawakan dalam kebaktian-kebaktian, dan akhirnya renungan yang saya buat tidak lagi dibuat dengan penuh sukacita. Perasaan capek karena tiap hari harus mengikuti kegiatan administrasi gereja dari pagi sampai sore hari, sedangkan pada malamnya harus mengikuti kebaktian, membuat saya jarang menyempatkan diri untuk berdoa. Pelayanan yang saya lakukan adalah pelayanan karena tugas sehingga pelayanan itu terasa hampa seperti tanpa spiritual. Saat-saat jenuh dan capek itu membuat saya menyadari bahwa ternyata saya sudah mulai melupakan panggilan untuk mempersembahkan kehidupan saya pada Tuhan. Saat itu saya menangis dan menyesali perbuatan saya. Kemudian saya berdoa dan memohon agar Tuhan memberikan kekuatan dalam melakukan semua pelayanan di jemaat tersebut. Akhirnya tanpa terasa, saya bisa melewati masa 3 bulan di jemaat dengan penuh keyakinan bahwa Tuhanlah yang memampukan saya.

Setelah kembali dalam kegiatan perkuliahan, kesalahan yang sama saya ulangi lagi. Saya merasa capek mengikuti pelayanan di gereja sehingga pada satu semester terakhir ini tidak ada lagi yang namanya mengajar di sekolah minggu ataupun melayani di kegiatan teruna. Namun, pada saat saya mengikuti perkuliahan ini (PK Spirit), saya diingatkan kembali bahwa Tuhan selalu menerima diri kita apa adanya. Semalas apapun diri kita dalam melayani, sebodoh apapun diri kita dihadapan Tuhan, saya sadar bahwa belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan itu karena Tuhan selalu menerima diri saya apa adanya. Saya yakin bahwa dengan merasa diterima oleh Tuhan, saya mampu melakukan perbuatan yang dapat menumbuhkan spiritualitas serta iman percaya saya pada Tuhan. Jatuh-bangun kehidupan iman saya membuat saya menjadi lebih dewasa dalam menjalani panggilan saya hari demi hari.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s