My Vocation (Panggilanku)

Saya setuju dengan pendapat Martin Luther mengenai apa itu panggilan. Menurutnya, melalui panggilan, kita melayani serta mencintai Allah dan juga melayani dan mencintai sesama kita. Jika panggilan tidak diberi unsur teologisnya, yaitu menunjukkan adanya pelayanan serta perasaan cinta pada Allah, panggilan itu sendiri terasa tidak lengkap. Bisa saja dalam panggilannya, seseorang dapat melakukan sikap yang buruk karena tidak mengasihi Allah, atau tidak takut akan Tuhan. Oleh karena itu, panggilan sebaiknya memiliki unsur teologisnya agar wujud pelayanan serta kepedulian pada sesama menjadi lebih sempurna.

Sampai saat ini, saya merasa bahwa panggilan saya terjadi ketika saya memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang pendeta. Ceritanya bermula ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya suka terlibat aktif dalam kegiatan pelayanan serta ibadah di sekolah, walaupun hanya menjadi pembawa kantong persembahan. Setelah masuk ke bangku SMA, saya tidak suka terlibat lagi dalam kegiatan pelayanan hanya karena seorang cowok yang saya taksir. Cowok itu tidak suka melihat teman-temannya yang ikut pelayanan karena kelihatan sok suci. Dari situ saya ikut terpengaruh dan menganggap bahwa mereka, termasuk teman-teman sepelayanan saya di SMP, yang ikut terlibat dalam pelayanan sekolah hanyalah sekelompok orang munafik yang sok suci. Namun, walaupun tidak lagi terlibat dalam pelayanan, saya masih rajin mengikuti ibadah di sekolah setiap hari jumat.

Setelah kurang-lebih setahun tidak terlibat dalam pelayanan sekolah, saya mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Saya mulai suka berpikiran negatif dan tidak semangat dalam melakukan apapun. Walaupun saya berpacaran dengan orang yang saya sukai, tetap saja saya merasa hampa dan tidak bahagia. Seringkali hanya karena dia, saya bisa bertengkar dengan adik, dan bahkan bisa bertengkar dengan mama. Pada suatu hari teman saya, yang sudah sekelas dengan saya sejak dari kelas 3 SMP, mengajak saya mengikuti KKR. Saya yang pada saat itu dalam keadaan bad mood langsung saja menyetujui ajakannya. Saya masih ingat suasana di sana, walaupun duduk di atas rumput yang beralaskan koran bekas dengan angin malam yang sangat dingin, saya merasa lebih tenang dan damai. Saya melihat ada beberapa orang yang mengenakan kemeja putih dengan bawahan berwarna hitam, mondar-mandir di tengah lapangan untuk membawakan koran bagi orang-orang yang tidak memiliki koran. Betapa senangnya saya melihat mereka sibuk dengan tugas masing-masing.

Setelah beberapa lama duduk di lapangan itu, ibadah KKR pun dimulai. Band dengan bunyi speaker yang sangat kencang menyanyikan lagu puji-pujian rohani yang membuat saya ingin berjingkrak-jingkrak seperti sedang berada di sebuah konser musik. Kemudian disusul dengan lagu-lagu penyembahan yang agak pelan yang membuat saya tersentuh dengan lirik-liriknya. Setelah menyanyikan beberapa lagu, kotbah pun dimulai. Saya sama sekali tidak mengingat siapa pengkotbahnya serta isi dari kotbahnya, namun yang membuat saya penasaran sampai saat ini adalah perubahan yang saya alami saat itu. Saat saya maju ke depan untuk didoakan, saya merasakan suatu perasaan yang membuat saya sedih, menyesal, sekaligus bahagia. Saya merasa bahwa selama ini, khususnya setahun belakangan, saya tidak pernah memikirkan orang lain karena saya begitu egois. Saya melayani bukan karena orang lain, tapi saya melayani untuk kepuasan diri saya sendiri. Saya memutuskan untuk berhenti mengikuti pelayanan bukan karena pacar saya tetapi karena saya sendiri yang terlalu egois ingin menjadi pacar yang sempurna. Keegoisan saya ini kemudian membuat saya sering kali melupakan Tuhan.

Kemudian saya berpikir dan bertanya pada Tuhan,“Apa yang harus saya lakukan selanjutnya supaya saya bisa lebih dekat padaMu dan lebih mengasihi orang lain?” Tiba-tiba saya terpikir untuk menjadi pendeta. Saya yang dari masih kecil sudah bercita-cita dan bertekad kuat untuk menjadi dokter, tiba-tiba berubah keinginan untuk menjadi pendeta. Pulang dari KKR, saya langsung memberitahukan kedua orang tua saya mengenai perubahan cita-cita saya dan mereka menanggapinya dengan serius. Mereka langsung menceritakan bahwa dulunya, mereka berdua selalu berdoa agar salah satu dari ke-3 anak mereka bisa dipanggil Tuhan untuk menjadi pendeta, dan doa mereka akhirnya terjawab.

Inilah yang saya pahami dengan panggilan saya. Cita-cita saya inilah yang membuat saya mulai aktif kembali dalam kegiatan pelayanan di sekolah. Saya merasa bahwa dengan terlebih dahulu saya belajar melayani dan mencintai Allah, saya kemudian bisa belajar untuk lebih peduli kepada sesama. Saya bisa melayani sesama, memberikan sesuatu dari kelebihan yang saya miliki bagi orang yang membutuhkan karena saya merasa bahwa apa yang saya miliki, adalah bukan milik saya sendiri melainkan milik orang lain yang dititipkan Tuhan pada saya. Itulah mengapa saya setuju dengan pendapat Martin Luther mengenai panggilan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s