Proposal Skripsi ttg PAK Lansia GMIM

A. Latar Belakang Masalah
Masalah yang banyak dibicarakan saat ini berkaitan dengan Lanjut Usia (selanjutnya menggunakan istilah lansia) atau Gerontologi(1) adalah masalah peningkatan jumlah penduduk lansia. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Farida Hanum, seorang sosiolog yang aktif melakukan penelitian tentang lansia, bahwa peningkatan tersebut terjadi dengan sangat signifikan dan konsisten dari waktu ke waktu. Peningkatan itu sendiri ternyata disebabkan oleh semakin majunya perkembangan teknologi di bidang kesehatan yang berdampak pada panjangnya usia harapan hidup(2). Hal senada juga dikemukakan oleh Inten Soeweno, Ketua II Komnas Lansia. Beliau mengungkapkan bahwa:

Di Indonesia tengah terjadi fenomena peningkatan jumlah penduduk berusia lanjut. Inilah kemudian yang menjadi salah satu faktor mengapa pemerintah merasa perlu membentuk Komnas Lansia. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia menunjukkan kecendrungan yang meningkat pesat. Pada tahun 1971 penduduk lansia baru sekitar 5,31 juta jiwa atau hanya sekitar 4,48 persen dari total penduduk Indonesia. Pada tahun 1980 berjumlah 7,9 juta (5,5%), dan pada tahun 1990 meningkat menjadi 11,3 juta (6,3%), dan menjadi 14,4 juta (7,18%) pada tahun 2000. Dengan angka seperti demikian maka Indonesia menjadi bagian dari negara berstruktur tua. Pada akhir tahun 2006 Indonesia sudah merupakan negara dengan penduduk lansia ketiga terbesar di Asia dengan jumlah sekitar 19 juta orang (8,9%). Beberapa dekade mendatang jumlah lansia di Indonesia diperkirakan lebih besar dibandingkan dengan balitanya(3).

Peningkatan jumlah penduduk lansia dapat menjadi persoalan karena akan membawa dampak di berbagai bidang, khususnya di bidang sosial dan ekonomi masyarakat. Dampak yang paling menonjol di bidang ekonomi antara lain, terjadinya peningkatan dalam ratio ketergantungan usia lanjut (old age ratio dependency). Artinya, setiap penduduk usia produktif atau yang masih bekerja akan menanggung semakin banyak penduduk usia lanjut yang sudah pensiun. Hal ini dikarenakan kondisi fisik lansia yang mulai menurun menyebabkan mereka tidak mampu mencari nafkahnya sendiri. Akibatnya, mereka membutuhkan orang lain untuk menyokong kebutuhan hidup mereka. Dampak lainnya juga ialah meningkatnya kebutuhan tenaga-tenaga profesional yang bertugas membantu, merawat, serta melayani lansia. Mereka itu antara lain ialah para perawat lansia (caregiver for older adults), dokter spesialis Geriatri (dokter yang khusus menangani penyakit-penyakit yang muncul di masa tua), pendamping spiritual serta psikolog khusus lansia. Jika tenaga profesional ini tidak segera dipersiapkan maka kualitas hidup para lansia akan semakin buruk.

Kenyataan di atas menuntut perhatian semua pihak untuk turut menyadari akan pentingnya menggumuli permasalahan lansia. Berdasarkan undang-undang RI No. 13 1998 disebutkan bahwa lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih(4). Mereka merupakan bagian dari masyarakat dan mereka merupakan tanggung jawab bersama. Baik dari pihak keluarga, masyarakat, pemerintah, maupun dari pihak lansia sendiri hendaknya mulai mengantisipasi dan mempersiapkan diri dalam menghadapi permasalahan yang mungkin akan muncul di masa mendatang.

Gereja merupakan bagian dari masyarakat yang seharusnya turut mengambil bagian dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Gereja yang peduli pada lansia adalah gereja yang menghargai usia lanjut sebagai berkat dari Allah. Seperti yang diungkapkan oleh Andar Ismail bahwa berdasarkan kesaksian Alkitab, usia lanjut merupakan anugerah dari Allah. Berikut adalah kutipan dari tulisan Andar Ismail berkaitan dengan usia lanjut:

Dalam Kejadian 1 – 11, terdapat angka umur manusia yang mencolok. Contohnya terdapat dalam Kejadian 5, di mana dicatat bahwa Metusalah dan beberapa orang lainnya mencapai usia 800 sampai 900 tahun. Mulai dari Kejadian 12 dan seterusnya, catatan tentang usia orang lebih mendekati kewajaran, misalnya, Abraham mencapai usia 175 tahun (Kej. 25:7), Yakub 147 tahun (Kej. 47:28), Musa 120 tahun (Ul. 34:7), dan lainnya. Mengingat bahwa pada zaman itu tingkat kematian anak sangat tinggi, jelaslah bahwa catatan angka usia lanjut dinilai sebagai anugerah pemberian tanda kemurahan hati Allah(5).

Hal di atas sesuai juga dengan kesaksian yang diberikan Alkitab berkenaan dengan lanjut usia. Kitab Amsal misalnya memberikan banyak kesaksian tentang usia lanjut, antara lain, “Takut akan Tuhan memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek” (Amsal 10:27). Dalam ayat ini terlihat bagaimana gagasan di baris kedua bertentangan dengan baris pertama. Mereka yang takut akan Tuhan dengan jelas dipertentangkan dengan mereka yang dianggap sebagai fasik. Dengan kata lain, untuk bisa mendapatkan umur yang panjang, Amsal mengatakan untuk takut akan Tuhan. Ke-takut-an inilah yang akan memperpanjang umur. Jika melakukan hal yang sebaliknya, maka yang akan didapat adalah umur yang pendek.

Kemudian juga, dalam Amsal 16:31 dikatakan, “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran”. Berbeda dengan ayat sebelumnya, ayat ini menggunakan pola kesejajaran perlengkapan (sintetik) yakni baris kedua melengkapi baris pertama. Di sini terlihat bahwa “rambut putih” sebagai mahkota didapat pada jalan kebenaran. Mungkin ayat ini ingin mengatakan bahwa mereka yang “rambutnya putih” tentulah mereka yang berumur panjang. Hal ini dikarenakan pada umumnya orang yang rambutnya putih adalah orang yang sudah tua. Mereka yang berumur panjang adalah orang-orang yang takut akan Tuhan (band.10:27). Mereka menerima mahkota yang indah karena mereka diberkati oleh Tuhan sebagai hasil “takut akan Tuhan”. Mereka berjalan pada “jalan kebenaran” dan bukan pada “jalan orang fasik”. Karena jika mereka berjalan pada “jalan orang fasik” tentu umurnya diperpendek.

Dengan demikian mereka yang digolongkan usia lanjut menurut Amsal adalah orang-orang yang mendapatkan berkat dari Tuhan. Gagasan ini sekaligus juga ingin mengatakan bahwa mereka yang berambut putih adalah orang-orang benar di mata Allah. Ayat-ayat ini dapat dipakai untuk menjadi dasar alkitabiah bagi gereja yang terpanggil untuk turut meningkatkan kualitas hidup lansia. Allah menghargai dan menerima lansia, begitu juga dengan gereja seharusnya turut menghargai dan menerima lansia melalui pelayanan yang tulus dan penuh kasih.

Salah satu dari sekian banyak gereja di Indonesia yang mulai menyadari akan pentingnya menggumuli permasalahan lansia ialah Gereja Masehi Injili di Minahasa (selanjutnya disingkat GMIM). Walaupun kesadaran ini baru muncul setahun belakangan dengan ditandai hadirnya persekutuan lansia, setidaknya sudah ada upaya dari gereja untuk turut memperhatikan lansia(6). Dengan demikian berarti GMIM menyadari panggilannya untuk memperlengkapi setiap anggota, serta bertanggung jawab atas pendidikan dan pelengkapan pelayan, baik secara formal, non formal maupun informal(7). Dan hal ini juga memperlihatkan bagaimana GMIM memiliki rasa kepedulian dan kasih kepada jemaatnya yang sudah berusia lanjut.

Dalam kebudayaan Minahasa, usia lanjut juga dianggap sebagai anugerah dari Tuhan. Hal ini terlihat dari doa orang Minahasa di zaman dahulu yang berisi permohonan untuk memperoleh Katutu’an (umur panjang). Berikut ini adalah sepenggal syair doa agama asli Minahasa(8):
Oh Empung e Wa’ilan, oh Empung renga-rengan
(Oh Tuhan yang maha mulia, oh Tuhan yang maha berada)
Kuman wo melep, piki-pikien an sakit
(Makan dan minum, jauhkanlah dari penyakit)
Wo yayo-yayo mange witi si Lokon
(Dan sampaikanlah pada tiga tua-tua Lokon)
Telu katua’an, wo kalawiren
(Semoga diberi usia lanjut, dan diberkati)

Berdasarkan sejarah Minahasa yang ditulis oleh seorang putra daerah Minahasa, Jessy Wenas, ternyata masyarakat Minahasa dulunya sangat menghormati orang yang berusia lanjut. Hal ini terlihat dari sikap mereka memberikan kepercayaan kepada lansia memegang kepemimpinan tertinggi dalam masyarakat(9). Masyarakat Minahasa menganggap bahwa orang yang berusia lanjut mengetahui banyak hal karena memiliki pengalaman hidup yang banyak. Apabila pemimpin mereka yang sudah lansia dianggap tidak mampu lagi melaksanakan tugas kepemimpinan karena kondisi fisik, toh lansia tetap diberikan kepercayaan untuk menjadi penasehat dalam dewan penasehat masyarakat(10).

Sampai sekarang gelar-gelar yang diberikan bagi pemimpin masyarakat di Minahasa mencerminkan bagaimana budaya Minahasa memandang usia tua sebagai anugerah dari Tuhan yang harus dihormati. Hal ini terlihat dari penggunaan istilah ‘tua’ yang diberikan masyarakat bagi gelar pemimpin mereka. Misalnya, gelar untuk pemimpin tertinggi dalam masyarakat asli Minahasa di zaman penjajahan Portugis dan Spanyol disebut Walian Tu’ah, kemudian untuk pemimpin dalam rumah/keluarga disebut Pa’endon Tu’a (artinya yang dituakan), sedangkan gelar untuk kepala desa sampai zaman sekarang ini menggunakan sebutan Hukum Tua (disingkat Kuntua)(11).

Perlu diperhatikan bahwa pelayanan yang dilakukan bagi lansia seharusnya dibedakan dengan pelayanan bagi kelompok usia dewasa lainnya karena adanya perbedaan kebutuhan antara keduanya. Menurut Andar Ismail, salah satu kebutuhan lansia yang harus diperhatikan ialah tetap memberikan mereka peranan dalam kehidupan jemaat. Beliau mengatakan bahwa, “Kegiatan lansia seharusnya jangan hanya menjadikan mereka sebagai penerima saja, tetapi harus aktif berperan sebagai pemberi”(12). Sayangnya pelayanan persekutuan lansia GMIM masih berbentuk kebaktian yang sama dengan kebaktian orang dewasa non-lansia, berisi doa, puji-pujian, dan perenungan firman. Dalam kebaktian tersebut belum ada kegiatan-kegiatan yang mewadahi lansia untuk berperan dan berkarya dalam kehidupan berjemaat. Tanpa disadari, kekayaan pengalaman hidup lansia yang bermanfaat untuk pembangunan jemaat terabaikan begitu saja.

Berhubung persekutuan ini belum lama dilaksanakan dan belum memiliki kurikulum, penyusun bermaksud untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi GMIM dalam mengupayakan sebuah kurikulum Pendidikan Kristiani bagi lansia di Minahasa. Harus disadari bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana bagi orang dewasa untuk membentuk serta mengembangkan kepribadian menjadi lebih baik. Terlebih lagi bagi lansia, pendidikan dapat membantu mereka menjadi pribadi yang lebih utuh. Senada dengan yang diungkapkan oleh Linda Jane Vogel dalam bukunya The Religious Education of Older Adults, “Education can enable persons in old age to accept themselvs as they are, to discover meaning in life as it has been experienced, and to integrate all of life into the person they are. It can aid them in becoming whole”(13). Dengan adanya kurikulum, setidaknya pelayanan tersebut memiliki arah serta tujuan yang bermanfaat bagi kehidupan lansia.

Kebutuhan lansia lainnya yang tak kalah penting ialah kebutuhan untuk dipersatukan dengan generasi yang lebih muda. Hal ini dapat membantu lansia untuk merasa tetap diterima dan dihargai walaupun kondisi fisik mulai menua/menguzur. Peran lansia sebagai penutur sejarah tidak boleh diabaikan karena dengan menceritakan sejarah pada generasi muda dapat mencegah kesalahan masa lalu terulang kembali. Hal ini menjadikan lansia sebagai ingatan sejarah bagi generasi muda. Jika ingatan ini tidak ada maka orang-orang muda menjadi kehilangan akar.

Melihat konteks Minahasa di masa kini, banyak budayawan prihatin dengan kondisi budaya Minahasa yang mulai menghilang. Seorang budayawan yang menulis buku tentang budaya Minahasa mengemukakan analisisnya bahwa, “Tidak ada daerah di Indonesia yang kebudayaan aslinya begitu cepat menghilang seperti yang terjadi di Minahasa”(14). Hal ini diakui juga oleh putra daerah, Jessy Wenas. Beliau mengatakan:

Memang sistem religi, organisasi masyarakat, ilmu pengetahuan, mata pencaharian, teknologi peralatan, kesenian, dan adat kebiasaan, berkembang sangat cepat sesuai tuntutan zaman. Proses yang terjadi di Minahasa masa kini ialah terbentuknya kesenian Kristen Barat oleh aliran sekte Protestan yang berusaha mematikan sisa-sisa seni-budaya asli Minahasa(15).

Kenyataan ini akan sangat memprihatinkan bila tidak segera diatasi. GMIM sebagai bagian dari Minahasa seharusnya turut bertanggung jawab melestarikan budaya tersebut. Oleh karena itu, peran gereja dalam memberikan kesempatan bagi lansia untuk berkarya melestarikan budaya Minahasa sangat dibutuhkan, mengingat bahwa lansia sendiri berperan sebagai penutur sejarah.

Pemahaman akan konteks Minahasa merupakan salah satu bagian penting untuk mencapai tujuan penulisan skripsi ini. Hal ini dikarenakan konteks dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Seperti yang diungkapkan oleh Erik H. Erikson dalam teori perkembangan psikologinya bahwa manusia tidak dapat dikupas dan dianalisa sebagai obyek belaka, lepas dari konteksnya. Hal ini dikarenakan lingkungan sosial memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadian manusia. Sebagai subyek manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat dan produk dari kultur, sejarah, agama, dan mitos di mana ia dibesarkan(16). Dengan memahami kepribadian lansia melalui konteks dimana ia hidup, dapat membuka pemahaman akan apa yang menjadi kebutuhannya. Untuk itu, uraian lebih lanjut mengenai konteks Minahasa merupakan bagian dalam pembahasan skripsi ini.

Pembinaan kerohanian yang dimulai sejak anak-anak seharusnya terus berlangsung seumur hidup. Hal itu juga seharusnya menjadi tanggung jawab bersama baik dalam kehidupan keluarga, jemaat, dan masyarakat. Pelayanan yang turut memperhatikan kebutuhan lansia menunjukan bagaimana wujud penghormatan kita kepada mereka.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, penyusun merumuskan masalah tersebut dalam beberapa bagian, yaitu:
1. Apakah yang menjadi kebutuhan lansia yang hidup dalam konteks Minahasa?
2. Kurikulum Pendidikan Kristiani seperti apakah yang dapat dipakai dalam pelayanan persekutuan lansia GMIM?

C. Batasan Permasalahan
Untuk mengeksplorasi permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka penyusun akan membatasi diri pada pengamatan terhadap kegiatan persekutuan lansia di GMIM. Dalam kegiatan tersebut penyusun akan mengamati bahan bacaan yang dipakai, metode yang digunakan, bagaimana proses belajar-mengajar terjadi, konteks dimana persekutuan tersebut dilaksanakan, serta unsur-unsur lain yang berkaitan dengan unsur-unsur kurikulum. Hal ini dilakukan agar mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai bagaimana pelaksanaan pelayanan tersebut.

D. Judul Skripsi
Pelayanan Persekutuan Lansia di GMIM
Penyusun memilih judul di atas karena pembahasan dalam skripsi ini didasarkan pada pengamatan terhadap pelaksanaan pelayanan persekutuan lansia di GMIM. Selain itu, penyusun menggunakan istilah “Pelayanan” karena istilah tersebut lazim dipakai dalam lingkup GMIM untuk mengindikasikan tugas panggilan Gereja(17).

E. Tujuan Penulisan Skripsi
Sesuai dengan uraian permasalahan di atas maka tujuan penulisan skripsi ini ialah:
1) Memahami kebutuhan lansia sesuai dengan konteks Minahasa.
2) Mengusahakan sebuah usulan kurikulum yang kontekstual bagi lansia di Minahasa.
3) Membantu gereja menyediakan pelayan-pelayan yang memahami kebutuhan lansia sehingga mampu memberikan pelayanan yang tulus dan penuh kasih bagi lansia.

F. Metode Penulisan Skripsi
Metode pembahasan dalam skripsi ini menggunakan metode deskriptif-analitik. Hal ini berarti bahwa berbagai hal yang akan disajikan dalam pembahasan skripsi ini tidak hanya disajikan secara deskriptis, tetapi juga penyusun akan mencoba sebisa mungkin menganalisisnya secara kritis.

Data-data yang diperlukan akan didapat melalui penggalian sumber informasi dengan cara studi kepustakaan serta penelitian lapangan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan cara pengamatan langsung serta wawancara dengan para aktifis gereja. Mereka adalah anggota jemaat yang terlibat dalam pelayanan persekutuan lansia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pengamatan akan dilakukan di dua gereja yaitu di GMIM Getsemani Sakobar serta GMIM Imanuel Seretan. Gereja pertama mewakili gereja konteks perkotaan sedangkan gereja yang kedua akan mewakili gereja konteks pedesaan. Hal ini dilakukan penyusun agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan utuh tentang pelayanan lansia di GMIM. Penelitian ini akan dilakukan selama 3 – 4 minggu di bulan Oktober hingga data yang dibutuhkan terpenuhi.

G. Sistematika Penulisan Skripsi
Bab I Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, judul skripsi, tujuan penulisan skripsi, metode penulisan skripsi, serta sistematika penulisan skripsi.

Bab II Konteks Minahasa
Bab ini merupakan uraian singkat mengenai konteks Minahasa berdasarkan tulisan dari Jessy Wenas mengenai Sejarah dan Kebudayaan Minahasa, serta tulisan dari Rudy N. Assa mengenai Sejarah Ringkas GMIM.

Bab III Psikologi Lansia berdasarkan Teori Perkembangan Psikologi Erikson
Bab ini merupakan uraian tentang lansia berdasarkan pada teori Perkembangan Psikologi Erik Erikson.

Bab IV Tinjauan terhadap Pelayanan Lansia di GMIM
Bab ini berisi tinjauan terhadap pelayanan persekutuan lansia di GMIM, bagaimana pelaksanaannya, adakah unsur-unsur kurikulum yang sudah mulai diperhatikan, ataukah ada yang terabaikan, serta adakah unsur-unsur yang dapat dikembangkan sehingga mampu menjawab kebutuhan lansia di Minahasa.

Bab V Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang dirasakan menjawab kebutuhan lansia di Minahasa. Beberapa saran yang dikemukakan merupakan saran yang sifatnya semata-mata tidak untuk menggurui tetapi sebagai suatu sumbangan pemikiran untuk dipertimbangkan dan dikembangkan.

H. Daftar Pustaka
Assa, Rudy N., Sejarah Ringkas GMIM tahun 1934 – 2000 (Kakas: Christyoan Christian Publication, 2003)
Bock, Wolfgang, Usia Lanjut yang berahmat dan berdaya pikat (Jakarta: Obor, 2007)
Erikson, Erik H., Identitas dan Siklus Hidup Manusia (Jakarta: Gramedia, 1989)
Hanum, Farida, Menuju Hari Tua Bahagia (Jogjakarta: UNY Press, 2008)
Hardywinoto & Setiabudhi, Tony, Panduan Gerontologi (Jakarta: Gramedia, 2005)
Hickson, John, Naturalist in North Celebes (London: John Murray, 1889)
Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Jakarta: Erlangga, 1991)
Ismail, Andar (peny.), Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999)
Koentjaraningrat (Redaksi), Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1977)
Morgan, Richard L., Tetap Ceria di Usia Senja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999)
Palm, Hetty, Ancient Art of the Minahasa (Jakarta: Gita Karya, 1961)
Santoso, Hanna & Ismail, Andar, Memahami Krisis Lanjut Usia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)
Tata Gereja GMIM tahun 2007 (Tomohon: Badan Pekerja Sinode GMIM, 2007)
Vogel, Linda Jane, The Religious Education of Older Adults (Birmingham: Religious Education Press, 1984)
Wenas, Jessy, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa, (Manado: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, 2007)

Sumber Lain:
http://komnaslansia.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=6:memperjuangkan-kesejahteraan-lansia-&catid=1:latest-news&Itemid=50. Diakses tanggal 4 Juli 2009
http://psikomedia.comartartikel.phpid=8. Diakses tanggal 4 Juli 2009

Footnote:
1. Menurut Dr.Hardywinoto, seorang ahli di bidang kesehatan masyarakat, Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari masalah Lanjut Usia.
2. Farida Hanum, Menuju Hari Tua Bahagia (Jogjakarta: UNY Press, 2008) p.10
3. http://komnaslansia.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=6:memperjuangkan-kesejahteraan-lansia-&catid=1:latest-news&Itemid=50
4. Farida Hanum, Menuju Hari Tua Bahagia (Jogjakarta: UNY Press, 2008) p.22
5. Hanna Santoso dan Andar Ismail, Memahami Krisis Lanjut Usia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) p.11
6. Persekutuan Lansia GMIM lahir pada tanggal 25 Mei 2008.
7. Tata Gereja GMIM (Tomohon: Badan Pekerja Sinode GMIM, 2007) Tata Dasar, Bab II, Pasal 5, no. 2
8. John Hickson, Naturalist in North Celebes (London: John Murray, 1889) p.241
9. Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa, (Manado: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, 2007), p.70
10. Ibid, p.69
11. Ibid, p.65
12. Hanna Santosa dan Andar Ismail, Memahami Krisis Usia Lanjut (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) p.112
13. Linda Jane Vogel, The Religious Education of Older Adults (Birmingham: Religious Education Press, 1984) p.2
14. Jessy Wenas, Ibid, p.170
15. Ibid, p.171
16. Erik H. Erikson, Identitas dan Siklus Hidup Manusia (Jakarta: Gramedia, 1989) p.240
17. lih. Tata Gereja GMIM dalam Peraturan Dasar Bab III tentang Panggilan Gereja

About these ads

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.