Spiritualitas Alam by: Icha Limpeleh

Pendahuluan

Setiap kali saya berlibur ke daerah yang alamnya kebanyakan belum terjamah tangan manusia, saya merasa sangat tertarik dan kagum akan keindahan alamnya. Saya ingat dahulu, saat pergi berlibur di sebuah desa yang terletak di atas gunung di daerah Minahasa, saya melihat betapa indahnya pemandangan alam di sana. Saat melihat ke sebelah barat, terdapat lautan biru yang luas dan begitu tenang dengan pecahan ombak di tepi pantainya, dan di sebelah timur terdapat dataran hijau berbukit-bukit dihiasi desa-desa kecil dan jalan-jalan yang menghubungkannya. Betapa agungnya karya Tuhan sehingga tidak ada seorangpun manusia yang mampu menciptakan keindahan seperti itu.

Namun sayangnya kini bumi tidak dapat lagi menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi makhluk yang hidup di dalamnya. Ada masalah yang sementara terjadi yang turut dirasakan oleh seluruh makhluk yang hidup bumi yaitu masalah pemanasan global. Saya ingat saat saya tengah mengadakan live-in di sebuah desa di daerah Gunung Kidul, kebetulan pada saat itu tengah terjadi musim kemarau yang begitu panjang yang menyebabkan sawah-sawah para petani menjadi kering. Saya dapat merasakan kesusahan dari para petani untuk mengusahakan sedikit air di ladang persawahannya. Begitu juga dengan sumur masyarakat di sana, airnya menjadi surut hampir tidak tersisa. Padahal selama ini, daerah tersebut tidak pernah mengalami kekeringan separah itu dan, mereka yakin hal tersebut disebabkan karena gempa bumi yang sebelumnya melanda Jogjakarta. Semenjak gempa terjadi, memang hujan di daerah tersebut tidak pernah turun lagi. Ironisnya, di daerah asal saya di Minahasa, pada waktu yang bersamaan tengah terjadi musim hujan yang sampai menyebabkan bencana banjir bandang. Ini merupakan salah satu gejala yang menunjukkan bahwa bumi sementara mengalami pemanasan global. Di suatu daerah kelembabannya diserap hingga menyebabkan musim kemarau panjang, pada waktu yang bersamaan di daerah lainnya malah mengalami musim hujan yang berlebihan sampai menyebabkan banjir.

Apakah yang terjadi dengan bumi ini? Apakah pemanasan global hanya sekedar fenomena alam yang menuntut campur tangan manusia untuk memperbaikinya? Ataukah keadaan ini seluruhnya disebabkan karena penaklukkan manusia terhadap alam dengan berlebihan? Bagaimana dengan spiritualitas yang intim dengan alam yang menuntut manusia untuk turut merasakan kehadiran Allah di alam semesta ini?

Spiritualitas Alam

Spiritualitas berasal dari kata spiritus yang berarti roh, jiwa, dan semangat. Dari kata inilah kemudian muncul kata spiritualitas yang sering kali dilawankan dengan kata “materi”. Namun arti kata sebenarnya dari spiritualitas itu sendiri ialah hidup yang didasarkan pada pengaruh bimbingan roh, dalam konteks ini roh tersebut adalah Roh Allah sendiri. Dengan spiritualitas, manusia bermaksud membuat diri dan hidupnya dibentuk sesuai dengan semangat dan cita-cita Allah.1

Spiritualitas atau hidup yang dipengaruhi dan dipimpin oleh Roh Allah terpusat pada dorongan dan ajakan Roh Allah untuk makin hari makin menyempurnakan diri dan hidup serta meningkatkan pelayanannya kepada sesama dan masyarakat. Di sini, spiritualitas tidak melulu berkaitan dengan diri pribadi seseorang melainkan berkaitan dengan pelayanannya kepada sesama. Seseorang yang mengklaim diri sebagai orang yang spiritual seharusnya mencerminkan diri sebagai seseorang yang juga peduli kepada sesama. Jika tidak demikian, berarti kehidupan spiritualitasnya patut dipertanyakan.

Dengan pengertian yang benar akan makna kata spiritualitas, Spiritualitas Alam dapat diartikan sebagai sebuah spiritualitas yang berpusat pada alam, di mana alam dapat menjadi tempat bagi manusia untuk mendengar dorongan dan ajakan dari Roh Allah. Melalui hubungan yang intim dengan alam semesta, Allah dapat berbicara pada manusia tentang segala kehendak-Nya bagi manusia untuk menyempurnakan diri dalam pelayanannya kepada sesama. Dengan spiritualitas ini pula, manusia akan dapat menjadi lebih bertanggung jawab dalam ‘menaklukkan’ bumi dan segala isinya.

Spiritualitas Alam sendiri masih jarang dikembangkan oleh kebanyakan orang karena mereka cenderung berpikir bahwa alam merupakan ciptaan Allah yang tidak ‘semulia’ manusia. Alam dapat disamakan dengan ciptaan Allah lainnya, seperti; matahari, bulan, bintang, burung, hewan ternak, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya. Pemahaman yang demikian tidaklah benar sepenuhnya, yaitu mengenai manusia yang lebih ‘mulia’ dari alam dan segala isinya karena sebenarnya, manusia sendiri merupakan satu kesatuan dengan alam. Manusia hidup di dunia tidak dapat dilepaskan dari alam semesta tempat di mana dia lahir, hidup dengan memperoleh makanan dan minuman, bertumbuh-kembang, dan akhirnya mati.

Sebuah buku tentang spiritualitas alam yang ditulis oleh seorang yang bernama Veronica Ray mengatakan bahwa spiritualitas alam memadukan kesadaran ekologis dan rohaniah manusia2, yang merupakan kesadaran pada suatu hubungan dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, berdasarkan pengakuan bahwa diri sendiri, orang lain, alam dan alam semesta merupakan pernyataan suci dari energi ilahi3. Jadi di satu pihak, orang seharusnya memahami dengan baik tentang ajaran agama beserta segala sesuatu yang berkaitan dengan norma-norma yang berlaku dalam agama tersebut, dan di pihak lain, pemahamannya itu juga diimbangi dengan pemahaman akan alam semesta yang baik dan tepat supaya terjadi relasi yang harmonis antara dirinya dengan alam. Dari sinilah kemudian spiritualitas alam dapat dikembangkan supaya manusia dapat menciptakan hubungan yang intim dengan alam sekitarnya.

Selama kehidupan manusia, bumi sudah memberikan energi dan sumber dayanya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Air, tanah, cahaya matahari, hewan dan tumbuhan, merupakan bagian dari alam yang dipergunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu juga, manusia malahan menciptakan senjata perusak yang dapat mengacaukan keseimbangan alamiah bumi. Eksploitasi alam secara besar-besaran dilakukan manusia karena keegoisan diri yang akhirnya akan berakibat juga pada dirinya sendiri. Hal demikaian tidak perlu terjadi apabila manusia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari alam semesta, yang walaupun sangat kecil, dapat memberikan pengaruh yang besar bagi lingkungan sekitarnya. Alam semesta merupakan kesatuan dengan dirinya.

Oleh karena itu, seperti yang dijelaskan oleh Veronica Ray dalam buku renungannya tentang spiritualitas alam, setiap orang terlebih dahulu harus menyadari tentang bagaimana dirinya sendiri, bagaimana hubungannya dengan orang lain, dan bagaimana hubungannya dengan bumi tempat ia tinggal dan hidup, karena segala sesuatu yang ada di bumi, besar maupun kecil, berkaitan erat satu sama lain.

Renungan tentang Diri Sendiri

Perenungan atas diri sendiri merupakan perenungan mengenai keunikan diri dari masing-masing pribadi yang mampu menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan ini. Seseorang yang mampu melihat dirinya sendiri dengan cara pandang yang positif, dimana dia merasa dirinya berharga dengan segala kelebihan serta kekurangannya, sesungguhnya juga turut mengungkapkan kesamaan serta keterkaitan dengan semua orang yang masing-masing merupakan bagian penting dari banyak sistem yang lebih besar (misalnya masyarakat dan bahkan, seluruh dunia). Kedamaian karena penerimaan diri ini memungkinkan seseorang dapat membagikannya kepada orang lain serta dunia yang ada di sekitarnya.

Jika seseorang melihat dirinya sendiri sebagai individu yang kecil dan tidak berarti, secara tidak sadar dia juga akan melihat orang lain maupun alam di sekitarnya seperti cara dia memandang dirinya sendiri. Akibatnya, dia dapat memperlakukan orang lain maupun alam di sekitarnya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri seolah-olah mereka tidak berharga untuk diperlakukan dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang melihat dirinya berharga dan berarti untuk dapat hidup di dunia serta menjalani hidup dengan baik, hal ini dengan sendirinya dapat tercermin dalam sikapnya memperlakukan orang lain serta alam sekitarnya. Apa yang dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain maupun alam semesta, bergantung pada bagaimana dia memandang dirinya sendiri.

Oleh karena itu, perlu ditanamkan dalam diri masing-masing pribadi kesadaran akan kesatuan diri manusia dengan alam agar manusia dapat melihat bahwa segala sesuatu di alam semesta merupakan pantulan dari sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri; siklus kelahiran, pertumbuhan, dan kematian. Manusia memiliki identitas diri ekologis dimana dirinya tidak dapat terpisahkan dari satu sistem kehidupan yang maha besar. Begitu juga sebaliknya, alam semesta turut memantulkan perjuangan batin, citra diri, keyakinan dan perasaan setiap individu manusia. Kesadaran ini menuntut manusia untuk terus mengingat serta melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang sudah diberikan Tuhan pada manusia untuk memelihara alam semesta supaya semua ciptaan Allah dapat hidup secara harmonis.

Renungan tentang Diri Sendiri dan Orang Lain

Perenungan atas diri sendiri dan orang lain merupakan perenungan mengenai hubungan saling keterkaitan yang menyentuh hidup seorang dengan yang lain yang dapat memberi kesempatan untuk saling belajar dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Dengan demikian, setiap orang dapat menemukan kekuatan dan dukungan yang tidak dimiliki oleh seseorang jika ia hanya sendirian karena secara sadar maupun tidak sadar, setiap individu sebenarnya bertanggung jawab satu kepada yang lain.

Salah satu cara berhubungan dengan orang lain adalah dengan berkomunikasi. Masing-masing orang dapat mendengarkan suara hatinya sendiri dengan cara mendengarkan orang lain. Misalnya; saya dapat memahami bahwa kemarahan saya muncul karena hati saya terluka. Pemahaman ini saya dapatkan dari komunikasi saya dengan orang lain yang mengaku bahwa, dia marah karena hatinya sedang terluka karena dikecewakan. Itulah mengapa unsur yang paling penting dari komunikasi adalah bagaimana cara kita mendengarkan orang lain.

Dalam perenungan ini, setiap orang diajak untuk memahami dan menerima perbedaan yang dimiliki setiap individu karena dengan perbedaan yang ada, semuanya dapat saling melengkapi satu sama lain. Namun satu hal yang perlu juga untuk diingat adalah bahwa walaupun berbeda, setiap orang yang tinggal dibumi merupakan satu keluarga, yaitu keluarga manusia. Kebenaran ini mengesampingkan semua perbedaan yang ada, yang seringkali memicu konflik dan peperangan.

Kemudian, rasa persatuan ini juga dapat dikembangkan dengan menyadari bahwa planet bumi, tempat dimana semua manusia dapat hidup dan berkembang, perlu dilestarikan dan dikelola secara bertanggung jawab sebgai tujuan bersama seluruh umat manusia. Fakta ini merupakan langkah awal untuk bersatu dalam keharmonisan dengan bumi. Menjalin hubungan kerja sama secara damai untuk kebaikan semua manusia yang hidup di bumi dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih baik lagi dalam mengelolah sumber daya alam yang ada.

Renungan tentang Diri Sendiri dan Bumi

Perenungan atas diri sendiri dan bumi merupakan perenungan mengenai pemahaman akan kesatuan diri setiap individu dengan alam semesta. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, setiap manusia merupakan bagian yang sangat kecil dari alam semesta dan sekaligus, alam semesta merupakan satu kesatuan dengan dirinya. Bumi bukan hanya tempat tinggal semata tetapi juga merupakan diri dari setiap manusia. Oleh karena itu, setiap manusia yang mengasihi dirinya sendiri harus juga turut mengasihi alam semesta.

Masalah lingkungan serta pemanasan global yang sekarang dihadapi pada skala internasional merupakan pencerminan dari masalah pribadi dan sosial yang tidak terpecahkan. Kesulitan dalam mengasihi serta berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain turut juga menciptakan kesulitan dalam berhubungan dengan cara yang tidak membahayakan dan harmonis dengan alam. Semuanya itu didasari oleh keyakinan dasar tentang identitas diri pribadi serta peran manusia dalam rencana keseluruhan dari segala sesuatu di alam semesta ini.

Banyak orang sangat mudah untuk mengemukakan segala macam teori dan argumentasi tentang tanggung jawab manusia kepada dunia alamiah. Mereka mudah melihat hanya sejauh apa yang nampak membahayakan atau menguntungkan dalam jangka pendek. Tetapi sementara sibuk berargumentasi, mereka tidak menyadari bahwa bumi menderita karena tindakan kebingungan mereka tersebut. Mereka mengubah kebutuhan untuk memikirkan bagaimana seharusnya hidup di dunia, dengan perang argumentasi antara pebisnis dan para pecinta lingkungan, atau pemerintah dan rakyat, yang ternyata hanya menunda pemecahan akhir dan membuat pemecahan itu semakin sulit dicapai. Seharusnya, setiap orang tidak perlu menyia-nyiakan waktu lagi untuk berdebat satu dengan yang lain karena setiap orang dapat mulai memahami bahwa nasib bumi adalah nasib bersama, oleh karena itu semuanya harus berhenti merusak bumi.

Kemudian juga, manusia seringkali lupa bahwa memelihara dunia alamiah bukanlah merupakan pengorbanan diri atau sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri. Manusia telah melakukan beberapa kesalahan sementara masih mengira tengah berbuat baik bagi diri sendiri. Tetapi sekarang, dengan spiritualitas alam yang mengajak semua manusia untuk lebih dekat lagi dengan alam dan lebih mengasihi alam seperti mengasihi dirinya sendiri, manusia akhirnya mulai menyadari tentang kerusakan yang terjadi akibat perbuatannya kepada alam semesta.

Manusia kemudian memanfaatkan keinginan untuk memelihara diri sendiri dengan belajar bagaimana cara yang benar dalam memelihara bumi. Misalnya; manusia menciptakan lingkungan yang lebih baik dan sehat untuk diri sendiri dengan mendaur ulang setiap sampah plastik bekas pakai, manusia dapat menghirup udara yang lebih bersih dengan bersepeda atau berjalan kaki, manusia menghemat energi dengan menghemat sumber daya alam yang berarti akan ada lebih banyak bagi generasi selanjutnya. Apa yang baik untuk bumi berarti baik juga untuk manusia. Dari sini, manusia belajar bahwa mengambil pertanggung jawaban dalam alam adalah cara untuk memelihara diri sendiri.

Dan hal terakhir yang menurut saya penting untuk direnungkan juga oleh setiap orang adalah penghargaan pada alam sebagai ciptaan Tuhan yang agung. Manusia diberikan tugas untuk menguasai dan menaklukkan alam, namun sekaligus juga diberikan tanggung jawab yang besar untuk terus memelihara alam ini dengan tidak mengeksploitasinya. Keindahan alam yang ada saat ini harus terus dipelihara agar generasi selanjutnya dapat turut merasakan dan menikmati keindahan alam yang tersisa saat ini.

Implikasi bagi Pendidikan Kristiani

Spiritualitas alam dapat sangat berpengaruh pada Pendidikan Kristen di gereja-gereja. Berdasarkan arah perkembangan masyarakat Asia4, tiga masalah penting yang perlu mendapat perhatian dalam mengembangkan agenda PWG pada masa kini dan mendatang, ialah:

  • Tantangan budaya yang dominan,

  • Masalah lingkungan,

  • Kehidupan bersama dalam masyarakat Asia yang majemuk.

Permasalahan di atas, yang didalamnya termasuk masalah pemanasan global yang sedang terjadi, menjadi wacana bagi gereja untuk memperbaharui pendidikan Kristen yang sudah dimiliki. Dengan mengembangkan spiritualitas alam, warga gereja turut diajak untuk lebih menghayati tugas serta panggilannya dalam menjaga serta melestarikan alam semesta. Apabila warga gereja dapat mengembangkan spiritualitas alam, dengan sendirinya spiritualitas ini dapat menjadi gaya hidup sehari-hari, dan secara tidak sadar, permasalahan lingkungan sedikit demi sedikit dapat teratasi.

Pembaharuan pendidikan Kristen dapat dilakukan dengan pertama-tama, mengembangkan tafsiran-tafsiran Alkitab yang mengarahkan warga gereja untuk cinta lingkungan. Dulunya, kitab Kejadian seringkali digunakan untuk membela tindakan semena-mena manusia terhadap alam. Ian L. McHarg, seorang dari Skotlandia yang menjadi perancang kota, ekologis, dan pendiri Departement of Landscape Architecture and Regional Planning pada Universitas Pennsylvania, yang melalui masa kanak-kanaknya antara kota Glasgow yang kotor dan kumuh dan Firth of Clyde, the Western Highlands and Island yang indah dan segar, menulis bahwa kisah Kejadian (khususnya Kej. 1: 26 & 28) ‘yang meletakkan tekanan atas kewajiban manusia menguasai dan menaklukkan alam, telah lebih banyak memancing naluri-naluri yang paling eksploitatif dan destruktif dalam diri manusia daripada naluri-naluri untuk membangun dan menghormati alam ciptaan’5.

Di sini dapat dilihat bahwa ada banyak orang yang salah menafsirkan makna kata menaklukkan serta menguasai alam sebagai suatu tindakan untuk mengeksploitasi bumi dan makhluk yang ada di dalamnya. Dengan mengembangkan spiritualitas alam dalam rangka pembaharuan pendidikan Kristetn, tafsiran seperti ini sudah jelas sangatlah tidak tepat. Warga gereja diarahkan untuk memiliki spiritualitas yang intim dengan alam supaya dengan sendirinya mereka dapat memahami bahwa kekuasaan yang diserahkan Allah kepada manusia adalah bersifat pemberian, menuntut tanggung jawab dan dilaksanakan dalam kerja sama dengan Allah. Kekuasaan itu harus membiaskan keprihatinan yang sama terhadap kelestarian lingkungan seperti keprihatinan Penciptanya.

Penutup

Masalah pemanasan global yang terjadi saat ini beserta isu-isu lingkungan hidup lainnya menuntut perbaikan sikap dari setiap individu yang ada di dunia ini, yang di dalamnya termasuk warga gereja. Mereka yang tidak peduli pada kehidupan alam serta kehidupan manusia di masa depan harus disadarkan kembali untuk mulai mencintai alam dan lingkungan. Spiritualitas alam dapat membantu setiap individu untuk dapat belajar mencintai alam, membangun relasi yang baik dengan alam, serta memelihara dan mengolah alam dengan penuh tanggung jawab. Manusia dapat belajar mendengar suara Allah melalui suara alam yang ada di sekitarnya. Dan yang terpenting dari kesemuanya itu adalah bagaimana manusia membangun hubungan yang intim dengan alam, yaitu hubungan yang penuh kasih, penghargaan, serta penghormatan terhadap alam semesta yang diciptakan Allah dengan begitu agung layaknya hubungan antara sepasang kekasih yang saling mencintai.

Kepustakaan

  • Hardjana, Agus M. Religiositas, Agama dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
  • Ismail, Andar. Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
  • Ray, Veronica. Spiritualitas Alam. Jakarta: Professional Books, 1997.
  • Stott, John. Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, 1994.

1 Hardjana, Agus M. Religiositas, Agama dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius, 2005. hal. 64.

2 Ray, Veronica. Spiritualitas Alam. Jakarta: Professional Books, 1997. hal. XIV.

3 Veronica Ray menjelaskan bahwa kata ilahi biasanya tidak digunakan untuk menggambarkan alam atau bahkan diri sendiri, tetapi keterkaitan di antara semua kehidupan benar-benar merupakan harmoni yang menakjubkan.

4 Ismail, Andar. Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999. hal.233.

5 Stott, John. Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, 1994. hal.159.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s