Wisdom of Minahasa

Minahasa merupakan negeri yang kaya akan hasil bumi, mulai dari pertambangan, perkebunan, serta perikanan. Dalam kebudayaannya, Minahasa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan asing sehingga kepercayaannya pun ikut dipengaruhi oleh kekristenan, misalnya saja; mereka percaya adanya High God (Empung Walian Wangko: Tuhan Maha besar) sebagai yang mengatur, berkuasa, menentukan atas tata alam dan kehidupan di dunia. Namun, mereka juga masih tetap mendewakan nenek moyang mereka yang sekarang ini dianggap menetap di angkasa, di gunung-gunung, di bawah tanah, di pohon yang besar dan indah, di air terjun yang besar, dan di batu-batu yang mereka anggap suci.

Menurut kepercayaan suku, segala bencana alam yang terjadi penyebabnya adalah para dewa yang adalah nenek moyang mereka, misalnya; gempa bumi terjadi karena dewa sedang marah. Namun karena budaya Minahasa sudah lama luntur oleh budaya asing, rakyat yang awalnya sangat menghormati alam turut menjadi ikut-ikut mengeksploitasi alam. Mereka percaya bahwa Allah memberikan manusia kekuasaan atas bumi, oleh karena itu manusia harus menggunakan kekuasaan tersebut untuk mengelola bumi ini. Kepercayaan terhadap roh leluhur lama kelamaan digantikan oleh kepercayaan monoteisme Kristen.

Setiap kali liburan tiba, saat saya masih TK, saya bersama saudara kembar saya diajak oleh orang tua untuk pergi melihat kebun cengkeh di kampung halaman kami. Saya sangat senang karena di perkebunan itu ada begitu banyak pohon cengkeh yang tumbuh dengan begitu teratur dengan rumah yang terletak di atas bukit serta sungai kecil mengalir di bawahnya. Pada siang hari suhu udara tidak begitu panas namun cukup untuk mengeringkan cengkeh yang sedang dijemur oleh para pekerja. Saya sangat suka memungut cengkeh yang jatuh dari pohon dan mengumpulkannya sampai menjadi sekantong plastik penuh. Kemudian saya memberikannya pada mama dan mama memberikan saya uang jajan karena telah mengumpulkan cengkeh itu. Pada sore hari saya selalu mandi di sungai bersama teman-teman karena sungai itu sangat jernih airnya. Kenangan indah itu tidak dapat terlupakan karena itulah pengalaman pertama saya hidup di alam yang sangat indah.

Saat saya duduk di bangku SMP, saya melihat bagaimana cara orang tua saya membuka lahan untuk perkebunan. Banyak pohon besar yang ditebang untuk ditanami tanaman baru. Hutan lebat yang menyimpan beraneka misteri berubah menjadi perkebunan cengkeh yang pohonnya tumbuh rapi teratur. Kayu dari pohon yang ditebang dijadikan papan untuk membuat rumah serta kayu yang lebih kecil dipergunakan untuk kayu bakar. Pada saat itu saya tidak mengerti apakah yang dilakukan mereka itu benar ataukah salah, yang saya pahami adalah bahwa hutan yang tidak menghasilkan apapun dapat berguna dan menghasilkan uang jika dikelola dengan benar. Selain itu, saya juga tahu bahwa dalam Alkitab, Allah menyuruh manusia untuk menguasai dan menaklukkan bumi, jadi saya merasa bahwa itulah yang harus dilakukan oleh orang Kristen, mengelolah alam yang diciptakan Allah.

Saat ini, saya menyadari bahwa sebagai orang Kristen, kita harus memiliki sebuah spiritualitas yang intim dengan alam. Kita tidak harus menjadi rakyat Minahasa masa lampau yang menganggap bahwa alam ini didiami oleh roh para leluhur oleh sebab itu harus dihormati dan dipelihara. Kita harus peduli terhadap alam dengan menjaga dan memelihara alam dengan baik karena alam juga merupakan ciptaan Allah. Kita bisa mengelola alam namun kita juga harus turut bertanggung jawab atas kerusakan alam yang terjadi. Mungkin yang dilakukan oleh orang tua saya merupakan tindakan yang salah karena merusak alam. Tapi mungkin juga itu benar karena toh mereka melakukan tugas pengelolaan alam yang diberikan Allah pada mereka.

Hal terpenting yang menurut saya harus ada dalam diri setiap orang adalah menyadari bahwa alam itu juga merupakan ciptaan Tuhan. Kita memang diberikan tugas untuk menguasai dan menaklukkan alam, namun kita juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk terus memelihara alam ini dengan tidak mengeksploitasinya. Keindahan alam yang saya nikmati setiap kali saya berlibur di perkebunan cengkeh merupakan keindahan alam yang terbentuk karena kerja sama manusia dengan Allah. Namun saat saya tengah berdiri di bukit yang paling tinggi dan melihat pemandangan hutan serta pantai di kejauhan, saya melihat pemandangan yang begitu alami dan indah tiada taranya. Inilah yang harus kita pelihara agar generasi selanjutnya juga dapat turut merasakan dan menikmati keindahan alam yang kita miliki saat ini.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s